- Mom : Kk bsk ulang tahun yaaa
- Ak : Eh iya ma. Makasi ya ma. Udah lahirin kaka 19 tahun yang lalu.
- Mom : Kk tuh lucu, bilang ke allah trima ksh gitu
- Ak : Iya ma. Makasi ya Allah udah titipin kaka ke mama sama papa. Makasi kaka udah dikasih umur sampai 19tahun ini sama mama papa. Ya Allah mohon panjangkan umur mama, papa, kaka, sama ade. Biar kita semua bisa tetep bereng*.
- Mom : aamiin. Anak mm udh ter nyata udh bsr, pinter & cantik
- Ak : aamiin. Makasi banyak ya Allah
I call it "never end"
- Me : Kalo ada jurang terdalam. Gw lagi disana skrg ini. Jatuh. Haha. Payah ya?
- Icong : *lempar tali*
- I : Gini
- I : Temen lo : lo mau loncat dia ngelarang
- I : Gue : lo mau loncat, gue taro trampolin
- I : Somehow kita pernah punya cita2 tiinggggiiiiii
- I : Skg kita harus lebih tinggi dari cita2 kita ('̀⌣'́҂)9
- M : Jatuh- jatuh ke trampolin- loncat.a lebih tinggi dari saat awal kita jatuh.
- I : Jatuh lagi lebih tinggi lagi, OKAY?
Mama. Mama tau kan kaka ga main-main sama kuliah kaka. Mama tau kaka ga pernah ada niatan di kepala kaka buat leha*.
Tapi mama, kaka ga pernah tau harus kayak gimana belajar kaka. Kaka belum tau. Kaka ga pernah pengen nilai sejelek itu. Kaka ga mau ma. Kaka ga mau ngecewain mama papa. Maaf ma pa. Maaf beribu-ribu maaf ma pa.
Hari Bakti Dokter Indonesia
Hanya sedikit orang, yang mampu ikhlas menerima tudingan malpraktik, meskipun tidak ada yang pernah tahu seberapa berat dia bekerja tanpa tidur, sebelum akhirnya dia melakukan kesalahan yang mungkin sebenarnya manusiawi untuk seorang manusia biasa yang bisa lelah, tapi tidak boleh dilakukan seorang tenaga kesehatan yang haruslah seperti malaikat yang tanpa cela.
Hanya sedikit manusia, yang mampu menahan lelahnya dan dibangunkan tengah malam, karena setiap orang sakit, meskipun itu hanya gatal-gatal, adalah pasien darurat yang harus ditangani saat itu juga.
Hanya sedikit manusia, yang mampu bersabar saat menerima pasien, yang mungkin sudah membayar berpuluh - puluh atau bahkan ratusan juta ke pabrik rokok untuk membeli penyakit, tapi tidak mau mengeluarkan sepeser pun untuk membayar pengobatan, malah menuduh tenaga kesehatan itu adalah makhluk penghisap darah yang mencari keuntungan dari penderitaan orang lain, tanpa sadar pihak mana yang sebenarnya mengambil keuntungan dan membuat dia sakit seperti itu.
Hanya sedikit orang, yang mampu bekerja di klinik swasta, dengan honor ribuan bahkan ratusan rupiah per pasiennya, tapi dapat dituntut ratusan juta apabila terjadi alergi obat (yang kalau dilihat komponen katanya adalah “alergi” yang berasal dari kekebalan tubuh pasien dan “obat” yang diproduksi oleh pabrik obat, tenaga kesehatan sendiri bisa dibilang hampir tidak punya peran dalam alergi obat tersebut).
Hanya sedikit orang, yang bisa menerima keadilan media, dalam memberitakan kasus dugaan malpraktek secara besar - besaran, sementara saat teman sejawatnya meninggal tenggelam saat bertugas ke pedalaman, hanya ditulis di kolom kecil yang pasti tidak menarik perhatian.
Sebarkan pernyataan tsb dan mari kita sukseskan gerakan “Hargai Petugas Medis”
Hari Bakti Dokter Indonesia
20 Mei 1908 - 20 Mei 2012
